AKATIRTA GELAR KULIAH UMUM TATA KELOLA AIR BERKELANJUTAN UNTUK KETAHANAN KOTA

Magelang – Akademi Teknik Tirta Wiyata (AKATIRTA) kembali menyelenggarakan kuliah umum sebagai bagian dari upaya memperkuat wawasan dan kompetensi mahasiswa di bidang air minum dan lingkungan (13/05/2026). Mengangkat tema “Tata Kelola Air Berkelanjutan untuk Ketahanan Kota”, kegiatan ini menghadirkan Ir. Arief Wisnu Cahyono, S.T., M.IST., Direktur Eksekutif Pusaka Air Indonesia, sebagai narasumber utama.

Kuliah umum ini memberikan pemahaman mengenai tantangan dan strategi pengelolaan sumber daya air di tengah perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan meningkatnya kebutuhan air di wilayah perkotaan. Melalui pengalaman profesional yang luas di sektor air minum, narasumber mengajak mahasiswa untuk melihat air bukan sekadar layanan publik, tetapi sebagai sumber daya strategis yang menentukan keberlanjutan pembangunan dan kualitas hidup masyarakat.
Dalam pemaparannya, Arief Wisnu Cahyono menjelaskan bahwa pengelolaan air saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ketersediaan air dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi hidrologis, kualitas lingkungan, hingga perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Kota-kota di Indonesia harus mulai bertransformasi menuju water resilient city atau kota tangguh air, yaitu kota yang mampu menjamin ketersediaan air secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan,” jelasnya.
Menurutnya, upaya membangun ketahanan air memerlukan strategi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dalam kesempatan tersebut, ia memperkenalkan konsep Empat Pilar Fondasi Ketahanan Air Jangka Panjang sebagai kerangka strategis dalam pengelolaan air perkotaan. Pilar pertama adalah efisiensi jaringan distribusi air, terutama melalui pengurangan tingkat kehilangan air (Non-Revenue Water/NRW). Langkah ini dinilai lebih efektif dan ekonomis dibandingkan pembangunan sumber air baru karena mampu meningkatkan ketersediaan air dari sistem yang sudah ada.
Pilar kedua adalah kebijakan tarif berkeadilan melalui penerapan tarif progresif dan subsidi silang. Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara keberlanjutan finansial penyedia layanan air minum dan keterjangkauan akses bagi masyarakat.
Pilar ketiga menekankan pentingnya konservasi berbasis kesadaran masyarakat. Pengelolaan air yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada teknologi dan infrastruktur, tetapi juga pada perilaku masyarakat dalam menggunakan air secara bijak dan bertanggung jawab.
Sementara itu, pilar keempat adalah penerapan ekonomi sirkular air, yaitu pemanfaatan kembali air hasil pengolahan limbah sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Pendekatan ini dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap sumber air baku sekaligus meningkatkan ketahanan sistem air secara keseluruhan.

Antusiasme peserta terlihat pada sesi diskusi yang berlangsung interaktif. Mahasiswa Program Studi D3 Teknik Lingkungan AKATIRTA mengajukan berbagai pertanyaan terkait tantangan pengembangan sektor air minum di Indonesia, mulai dari strategi pemerintah dalam mencapai target peningkatan akses air minum aman, prioritas antara perluasan cakupan layanan dan penurunan tingkat kehilangan air (Non-Revenue Water/NRW), hingga efektivitas kebijakan tarif progresif dan subsidi silang dalam mendukung keberlanjutan perusahaan air minum.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi sektor air minum, baik dari aspek pendanaan, kapasitas produksi, sumber daya manusia, maupun kelembagaan. Menanggapi hal tersebut, narasumber menekankan pentingnya tata kelola yang kuat, peningkatan kompetensi SDM, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi antara pemerintah, operator air minum, dunia pendidikan, dan masyarakat untuk mempercepat transformasi sektor air di Indonesia.
Menurut Arief Wisnu Cahyono, lulusan Teknik Lingkungan di masa depan tidak hanya dituntut menguasai aspek teknis, tetapi juga perlu memiliki kemampuan manajerial, analisis data, pemahaman kebijakan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital yang semakin banyak diterapkan dalam pengelolaan sistem air minum.
Selain membahas konsep ketahanan air, narasumber juga memaparkan pengalaman transformasi Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya selama periode 2021–2025. Berbagai capaian strategis berhasil diwujudkan, antara lain peningkatan kapasitas instalasi pengolahan air, perluasan jaringan pelayanan, pembangunan infrastruktur pendukung, serta peningkatan kinerja perusahaan hingga menjadi salah satu BUMD sektor air dengan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Melalui studi kasus tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran nyata bahwa keberhasilan sektor air tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas tata kelola, kepemimpinan, inovasi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan.

Kuliah umum ini juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menjawab tantangan sektor air di masa depan. Mahasiswa AKATIRTA didorong untuk memiliki kompetensi multidisiplin yang mencakup aspek teknik, manajemen, kebijakan publik, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
Kuliah umum ini mendapatkan respons positif dari peserta. Salah satu mahasiswa AKATIRTA, Siti Mutmainnah Ramadhani Abdullah, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan yang lebih luas mengenai tantangan dan solusi dalam pengelolaan air minum di Indonesia. “Kuliah umum ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi kami untuk memahami berbagai permasalahan yang akan dihadapi di sektor air minum beserta solusi yang dapat diterapkan dalam mendukung pengelolaan air yang berkelanjutan. Kami juga dikenalkan dengan teknologi SCADA yang memungkinkan proses pengelolaan dan pemantauan sistem dilakukan secara lebih efektif dari jarak jauh,” ujarnya.
Sebagai perguruan tinggi vokasi yang berfokus pada bidang air minum dan lingkungan, AKATIRTA terus berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan tantangan pembangunan nasional. Melalui kegiatan seperti kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan wawasan strategis serta menjadi tenaga profesional yang siap berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan air dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.


Penulis: Humas AKATIRTA
Kategori: Berita Kampus | Kuliah Umum | Tata Kelola Air | SDGs | Ketahanan Kota

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *